LOVE



Kita adalah representasi / wakil dari Kerajaan Allah di muka bumi. Kita tidak hanya mewakili suatu gereja atau denominasi saja, tetapi mewakili Kerajaan Allah.

Saat kita menjadi representasi dari seseorang, maka kita harus mencerminkan orang yang kita wakili itu. Dan kita adalah representasi Allah.

Alkitab berkata bahwa "God is love", bukan Allah mempunyai kasih, tetapi Allah adalah kasih. Jika kita tidak bisa menunjukkan kasih, maka kita gagal menjadi representasi dari Allah karena Allah adalah kasih itu sendiri.

Inti dari semuanya adalah kasih.

Dalam hidup ini, kita harus mengutamakan hal yang utama atau first thing first! Tetapi, celakanya banyak orang Kristen yang membangun hal-hal yang tidak utama dan menelantarkan hal-hal yang utama.


Matius 22:36-40 menyebutkan bahwa: "...Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.

Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."

Oleh karena itulah, seharusnya parameter yang digunakan untuk melihat apakah kita berada di jalur yang benar atau tidak adalah: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Jika demikian, maka dosa yang terutama dan utama adalah: tidak mengasihi Tuhan dan sesama.
1 Korintus 13:1-3 berkata: "...Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna ..." (ayat 2).

Wahyu 2:2-5 juga mengatakan hal yang sama, bahkan dikatakan bahwa: "...Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu, ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya jikalau engkau tidak bertobat."

Kehilangan kasih berarti kejatuhan, dan jika kita tidak bertobat maka kaki dian kita akan diambil. Kaki dian melambangkan revival atau kebangunan rohani. Jadi, jika kita tidak mengasihi, maka kita tidak akan mengalami kebangunan rohani.

Jika mengasihi ternyata begitu penting, lalu mengapa kita susah melakukannya?

Roma 12:2 mengatakan bahwa: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu..."

Perubahan fisik dan perilaku kita tergantung oleh pemikiran kita. Mengapa kita tidak bisa berubah? Mengapa kita tidak bisa mengasihi? Karena paradigma kita belum berubah, kita belum menerima paradigma yang baru.

Ada tiga paradigma baru yang harus kita miliki agar kita bisa mengasihi, yaitu :

1. Melepaskan kasih.
Kita sudah memiliki kasih di dalam diri kita, kita hanya perlu melepaskannya saja. Jangan bersikap seolah-olah kita masih belum memiliki kasih.

Roma 5:5 menyebutkan bahwa: "...karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan pada kita."

Saat Yesus dan Roh Kudus masuk ke dalam hati kita, kasih itu telah dicurahkan. Dalam bahasa aslinya, berarti: dicurahkan habis-habisan atau dicurahkan sampai habis.

Kasih itu sudah ada dalam diri kita, tetapi mengapa kita masih susah untuk mengasihi ? Hal itu karena kita belum melepaskan kasih.

Melepaskan kasih hanya perlu satu hal, yaitu : keputusan.

Mengampuni adalah salah satu proses melepaskan kasih. Kasih yang kita miliki sebesar kasih Allah, potensi itu sudah ada dalam diri kita, kita hanya perlu berlatih untuk melepaskannya.

Untuk mengampuni, kita hanya butuh keputusan untuk melepaskan atau mengalirkan kasih kepada orang yang bersalah kepada kita. Keputusan berbeda dengan perasaan. Perasaan selalu mengikuti keputusan.

Perasaan menggoda kita dan sering berlawanan dengan iman. Perasaan tidak pernah kekal, karena kasih bukanlah perasaan tetapi keputusan.


Ada tiga sumbat yang membuat kita tidak bisa mengasihi. Dalam 1 Timotius 1:5 dikatakan: "Tujuan nasihat itu ialah kasih yang timbul dari hati yang suci, dari hati nurani yang murni dan dari iman yang tulus ikhlas."
kita belum memiliki ketiga hal itu, maka kita tidak akan bisa mengasihi.

Hal yang pertama adalah hati yang suci, artinya kita tidak menympan akar pahit dalam hati kita. Kita harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita, karena jika tidak demikian maka Bapa yang di Surga juga tidak akan mengampuni kesalahan kita.

Kedua adalah hati nurani yang murni. Bereskan jika kita punya salah (restitusi). Jika kita melakukan kesalahan dan belum meminta maaf, maka kita tidak akan memiliki hati nurani yang murni.

Hal ketiga adalah iman yang tulus ikhlas, selalu ingat bahwa seringkali iman berlawanan denga perasaan.

2. Menyerahkan kuasa.
Kita tidak bisa mengasihi dan berkuasa secara bersamaan. Saat kita mengasihi, kita harus melepaskan kuasa. Dalam Perjanjian Lama, Allah menunjukkan kekuasaannya, tetapi dalam Perjanjian Baru, Allah menunjukkan kasihNya.

Yesus tidak menganggap kesetaraanNya dengan Allah sebagi milik yang harus dipertahankan. Yesus datang ke dunia sebagai manusia, berupa hamba yang bisa mati di kayu salib. Ia kehilangan kuasa untuk menunjukkan kasihNya kepada kita. Semakin besar pengorbanan yang diberikan, maka semakin besar kasih yang ditunjukkan.

Ibu Teresa adalah seorang wanita yang sudah tua dan lemah, tetapi ia bisa menguasai dunia dengan kasihnya. Ia berkata: "kasih yang sejati harus menimbulkan rasa sakit, dan tanpa berani menderita, kita hanya melakukan tindakan sosial saja, bukan tindakan cinta."

Semakin kita ingin mengendalikan orang lain, maka semakin kita tidak bisa mengasihi. Oleh karena itu, lepaskanlah kuasa yang ada pada kita.

3. Kolose 3:23 "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia"
Jika kita melakukan segala sesuatunya dengan segenap hati seperti untuk Tuhan, maka kita dapat melakukannya dengan bebas.

Alkitab berkata bahwa apapun yang kau lakukan untuk saudaramu, berarti kau melakukannya untuk Tuhan. Jika kita gagal mengasihi sesama yang kelihtan, maka kita juga gagal mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan.